Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Info Kedubes
CV Duta Besar
Sambutan Dubes
Kontak Kami
Hubungan Bilateral
Sekilas Hubungan Bilateral
Kunjungan & Pertukaran
Dokumen Penting
Visa dan Urusan Konsul
Formulir Aplikasi Visa China
Pengumuman Penting
Panduan Pelayanan
Info Visa Tiongkok
Notaris & Legalisasi
Pusat Pelayanan Aplikasi Visa
Budaya, Pendidikan & IPTEK
Belajar di Tiongkok
Budaya Tiongkok
Pertukaran Iptek
Info Ekonomi & Perdagangan
Situs Seksi Komersial Kedubes
Forum Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Tiongkok-Indonesia
Links Terkait
Konsulat Jenderal Tiongkok di Surabaya
Konsulat Jenderal Tiongkok di Medan
DEPLU Tiongkok
Pemerintah Pusat Tiongkok
ASEAN-China Center
Tiongkok-ASEAN Expo
Boao Forum utk Asia
Kantor Berita Xinhua
Harian Rakyat Online
Radio Tiongkok Internasional(CRI)
China Daily
  Topik Khusus
 ·  BRICS 2017
 ·  Forum Belt and Road untuk Kerjasama International
 ·  G20 Tiongkok 2016
 ·  Presiden Xi Jinping Hadiri Konferensi Perubahan Iklim
 ·  KTT G20 dan Pertemuan Informal Pemimpin APEC ke-23
 ·  Boao Forum for Asia Annual Conference 2014
 ·  NPC & CPPCC Sessions 2014
 ·  Premier Li Keqiang Attends Meetings of East Asian Leaders and Pays Official Visits to Brunei, Thailand and Vietnam
 ·  President Xi Jinping Pays State Visits to Indonesia, Malaysia and Attends the 21st APEC Economic Leaders' Meeting
 ·  The 10th China ASEAN-EXPO
 ·  Presiden Tiongkok Xi Jinping Hadir Forum Asia Bo`ao
 ·  Kungjungan Kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Rusia dan Tiga Negara Afrika
 ·  Sidang KRN dan MPPR
 ·  Kongres Nasional PKT
 ·  KTT Asia-Eropa
 ·  Isu Diaoyu Dao
 ·  Kunjungan Kenegeraan SBY ke RRT
 ·  Kunjungan Resmi Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao ke Indonesia
 ·  Hubungan Diplomatik China-Indonesia
 ·  Hubungan Tiongkok-ASEAN
 ·  Belajar Bahasa Mandarin
 ·  Tiongkok Modern
Semangat Bandung Pimpin Asia dan Afrika Menuju Masa Depan
 (2015-05-12)

Konferensi Asia Afrika (KAA) selama dua hari dibuka di Jakarta hari ini (22/4). Dalam konferensi kali ini akan dikeluarkan dokumen untuk mengorbarkan kembali Semangat Bandung. Ini berarti Semangat Bandung tetap relevan dan penting dalam situasi politik dan ekonomi yang baru.

Wakil Direktur Institut Penelitian Asia Pasifik di bawah Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, Han Feng mengatakan: "Semangat Bandung memiliki arti monumental yang sangat penting. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, di dunia muncul konfrontasi baru antara negara besar, di mana pengaruh kolonialisme dan imperialisme masih merajalela. Semenara itu negara-negara berkembang berkobar-kobar menentang kolonialisme, imperialisme dan hegemonisme dalam perjuangannya mengusahakan pembangunan dan kemerdekaannya sendiri. Negara-negara berkembang menyusun prinsip-prinsip pokok untuk melakukan kerja sama antara satu sama lain, yaitu Dasasila Bandung. Dengan adanya Dasasila ini, maka negara-negara berkembang menunjukkan peran, wajah dan teori yang baru di panggung dunia.

60 tahun sudah berlalu sejak KAA pertama di Bandung. Situasi internasional kembali berada di titik balik sejarah. Saat ini negara-negara berkembang di Asia dan Afrika telah mengalami kebangkitan secara merata. Separoh anggota PBB adalah negara-negara Asia dan Afrika. Akan tetapi, hegemonisme, politik kekuatan dan terorisme tetap mempengaruhi perdamaian dan stabilitas dunia, negara-negara Asia dan Afrika tetapi menghadapi tugas berat untuk mengembangkan ekonomi dan memperbaiki hajat hidup rakyat.

Profesor Wang Fan dari Akademi Diplomasi Tiongkok menunjukkan, Dasasila Bandung masih relevan untuk penanganan hubungan antar negara pada zaman sekarang. Ia mengatakan, walaupun situasi telah berubah, namun prinsip-prinsip pokok yang tercantum dalam Dasasila masih relevan dan penting. Dasasila menganjurkan prinsip mengusahakan persamaan sementara mengesampingkan perbedaan, serta hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati. Prinsip-prinsip itu adalah hukum penting untuk menangani hubungan antar negara. Wang Fan juga menyatakan bahwa hubungan antar negara serta masalah-masalah titik panas harus dipandang penting dan diselesaikan.

Xu Liping dari Akademi Ilmu Sosial mengatakan, Dasasila Bandung menentang penggunaan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. Prinsip itu masih mempunyai arti realistis yang penting pada zaman sekarang. Ia mengatakan, mekanisme pertahanan baik yang bilateral maupun multilateral yang muncul sejak Perang Dingin sebenarnya sengaja ditujukan negara lain dan mengabdi bagi kepentingan negara besar. Mekanisme itu tidak menguntungkan pembinaan ketertiban politik dan ekonomi yang adil dan damai pada saat ini. Sarjana tersebut menganjurkan pengembangan Semangat Bandung dalam penanganan hubungan antar negara.

 ·  Semangat Bandung Pimpin Asia dan Afrika Menuju Masa Depan  (2015-05-12)
 ·  Pengaruh Semangat Bandung Terhadap ASEAN  (2015-05-12)
 ·  Tiongkok, Pendorong dan Pelaksana Semangat Bandung  (2015-05-12)
 ·  Tiongkok dan Indonesia Capai Empat Fasal Kesepahaman Penting  (2011-05-01)
 ·  Wen Jiabao Menemui Para Anggota Tim Medis Internasional Indonesia  (2011-05-01)
 ·  2010 Expo Shanghai Official Website  (2009-10-10)
 ·  Kebijakan Pengembangan Bagian Barat China  (2004-04-22)
Topik Khusus
BRICS 2017
Forum Belt and Road untuk Kerjasama International
G20 Tiongkok 2016
Presiden Xi Jinping Hadiri Konferensi Perubahan Iklim
Xi Jinping Hadiri Upacara Pembukaan COP21 di Paris
Xi Jinping Temui Obama
Tiongkok Mainkan Peranan Konstruktif Dalam Penanganan Perubahan Iklim
Xi Jinping Temui Presiden Prancis
More...
Dari Media Indonesia
Harian Rakyat Merdeka: Hanif Pastikan Hoax, Perkampungan China di Sulteng Tidak Ada
Harian Kompas: Dubes China "Menikmati' Cirebon
Harian Kompas: China Tawarkan 200 Beasiswa
Media Cirebon: Xie Feng Cirebon Saksi Persahabatan Tiongkok Indonesia
Harian Republika: Dubes China Dorong Pertukaran Santri Dengan Indonesia