Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Home > Topik Khusus
Tiongkok, Pendorong dan Pelaksana Semangat Bandung
2015/05/12

Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 di Jakarta berakhir kemarin (23/4). Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya mengajukan beberapa usulan, termasuk peningkatan kerja sama Asia Afrika, kerja sama Selatan-Selatan dan kerja sama antara Selatan dan Utara.

KAA Bandung merupakan tonggak penting dalam sejarah hubungan antara negara-negara Asia dan Afrika. Pada masa awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, hanya negara-negara sosialis dari Eropa Timur yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Atas undangan pemerintah Indonesia waktu itu, delegasi Tiongkok yang diketuai Perdana Menteri Zhou Enlai menghadiri KAA Bandung pada tahun 1955. Pertemuan Asia dan Afrika pada masa itu sempat menimbulkan perdebatan serius karena perbedaan ideologi. Zhou Enlai atas nama pemerintah Tiongkok mengemukakan prinsip "mengusahakan persamaan dan mengesampingkan perbedaan" dalam konferensi tersebut. Berkat upaya itulah konferensi dapat terus berlangsung. Lima prinsip hidup berdampingan secara damai yang digagas Tiongkok dikembangkan lebih lanjut di KAA Bandung, dan diserap dalam Dasasila Bandung untuk dijadikan prinsip pembimbing yang penting bagi penanganan hubungan antar negara era baru.

Saat ini tidak sedikit negara Asia dan Afrika yang tertinggal di masa lalu telah berkembang menjadi kekuatan pertumbuhan yang baru di dunia. Negara yang dulunya lemah di bidang industri kini telah beralih menjadi raksasa industri. Di panggung internasional, sejumlah negara Asia dan Afrika yang dulunya terbilang lemah dan terbelakang, kini telah berkembang menjadi kekuatan yang dinamis, bahkan peserta dan perumus peraturan baru.

Tahun lalu volume produk domestik bruto negara-negara Asia dan Afrika mencapai proporsi 51 persen dari volume total seluruh dunia. Sekarang di benua Asia dan Afrika telah muncul banyak kekuatan ekonomi yang baru, termasuk Tiongkok. Dalam 30 tahun terakhir, agregat ekonomi Tiongkok meningkat hampir 70 kali lipat untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, serta negara terbesar perdagangan dan ekspor. Sumbangan Tiongkok terhadap ekonomi global selalu berada di peringkat pertama dalam beberapa tahun terakhir.

Xi Jinping dalam pidatonya dalam KAA di Jakarta mengatakan, dalam situasi yang baru, Tiongkok akan dengan teguh mendorong kerja sama Asia dan Afrika. Tiongkok akan meningkatkan kerja sama keamanan dan perdamaian dengan negara-negara Afrika, membantu mereka meningkatkan dayanya dalam pemeliharaan perdamaian, pemberantasan terorisme dan bajak laut. Tiongkok ingin bersama negara-negara Afrika melakukan kerja sama dalam pembangunan jalan kereta api, jalan tol, jaringan penerbangan regional dan lain sebagainya untuk mendorong proses industrialisasi Asia dan Afrika. Tiongkok akan memberlakukan tarif bea masuk nol persen terhadap 97 persen barang komoditi dari negara-negara yang paling tidak maju mulai tahun ini. Sementara itu, Tiongkok akan terus menyediakan bantuan tanpa syarat politik kepada negara-negara berkembang. Tiongkok akan berupaya bersama semua pihak terkait dalam pembangunan "Satu Sabuk Satu Jalan", bersama-sama membentuk Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB), serta berusaha memainkan peranan penyandang dana Jalan Sutra. Tiongkok akan berusaha bersama negara-negara terkait untuk memperbaiki platform Tiongkok-ASEAN, Forum Kerja Sama Asia-Afrika dan Organisasi Kerja Sama Shanghai. Tiongkok akan terus mendorong kerja sama Selatan-Selatan, bersama-sama memelihara perdamaian dan stabilitas dunia guna mendorong kemakmuran dan pembangunan bersama dunia.

Suggest to a friend
  Print