Home Info Kedubes Hubungan Bilateral Visa dan Urusan Konsul Budaya, Pendidikan & IPTEK Info Ekonomi & Perdagangan Pers & Media Berita Terkini Aktivitas Kedubes
 
Home > Pers & Media > Dari Media Indonesia
Keren, Ratusan Jamur Putih Raksasa Selimuti Kampung Salju di Tiongkok
2018/01/17

HEILONGJIANG, iNews.id – Banyak objek wisata menarik di Tiongkok yang patut dikunjungi. Salah satu yang lagi hits adalah Kampung Salju Xuexiang, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok.

Kampung Salju Xuexiang rupanya menyimpan pemandangan yang sangat indah. Wajar jika banyak wisatawan yang penasaran ingin datang, tidak hanya dari Tiongkok saja.

Turis mancanegara pun banyak yang datang karena penasaran dengan objek wisata yang jadi salah satu andalan pemerintah Tiongkok. Mereka tampaknya ingin merasakan dari dekat salju dengan ketebalan dua meter selama enam bulan.

Keelokan Kampung Salju Xuexiang, juga dibuktikan langsung oleh jurnalis iNews.id yang mendapatkan undangan dari Administrasi Pariwisata Nasional Tiongkok. Bersama para jurnalis dari Malaysia, Filipina, Singapura dan China Radio International yang berpusat di Beijing, kami berangkat dari Kota Harbin, Ibu Kota Heilongjiang ke Kampung Salju.

Kampung Salju Xuexiang berada di wilayah Kota Hailin atau dikenal sebagai China Snow Town yang memiliki luas sekitar 500 hektare. Setiap tahun, salju di Xuexiang mulai turun dari November hingga Mei.

Rombongan kami berangkat pukul 09.05 waktu Harbin, satu jam lebih cepat dari waktu di Indonesia. Perjalanan dari Hotel Wanda Realm distrik Nan Gang ke Kampung Salju Xuexiang, menempuh jarak sekitar 280 kilometer. Waktu yang ditempuh memang cukup lama sekitar 6,5 jam, sudah termasuk makan dan keperluan ke toilet.

Tidak terasa, perjalanan sudah sekitar dua jam, anggota rombongan wartawan Tiongkok dan ASEAN ada yang ingin ke toilet. Kami pun berhenti sejenak untuk ke toilet di pemberhentian Shang Zhi.

Tour guide meminta kami untuk mengenakan pakaian lengkap karena udara di luar sangat dingin minus 30 derajat Celsius. Rupanya, apa yang dikatakan Frank, sang tour guide, memang benar. Pintu masuk toilet diselimut es yang membeku, layaknya dalam freezer.

Sepanjang perjalanan di kiri dan kanan, hanya pemandangan alam yang ditutupi salju. Kami melewati jalan tol yang sangat bagus. Karena jalan dikhawatirkan licin, kami diminta mengenakan sabuk pengaman. Dalam perjalanan, ada sebuah truk yang tergelincur salju.

Tepat pukul 12.00, tour guide menginformasikan pemandangan gunung salju sebagai tempat olahraga ski terbaik di Tiongkok. Tidak terasa, lima menit kemudian kami sampai di tempat makan dengan menu tradisional setempat.

Daerah Ya Bu Li dikenal menyajikan menu masakan rumahan dari petani setempat. Sekitar satu jam, kami makan siang dengan aneka menu di Restoran Xinrong. Rombongan kami menikmati hidangan khas Oriental, di antaranya hidangan pembuka sup kepiting, sup tomat, semur bebek, dan kentang. Selain itu, ada juga soun sawi putih, batang pakis, dan sayur hijau mirip kailan, dan nasi. Ada spesial menu yang wajib dipesan, yaitu telur dadar. Kemudian sebagai makanan penutup, ada ubi merah goreng berbalut karamel.

Usai makan, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Selama 1,5 jam, kami diminta untuk selalu terjaga agar tidak kehilangan momen indah menuju pegunungan salju. Di sepanjang perjalanan menuju pegunungan Changbai, salju tebal menyelimuti hampir seluruh area dataran tanah. Pemandangan putih bersinar menghiasi perjalanan kami, seperti galeri salju.

Hebatnya, jalan menuju Kampung Salju yang kami lewati bersih dari salju. Entah kapan petugas membersihkannya. Jalanan pun cukup untuk dilintasi dua mobil bus.

Memang tidak semua wisatawan beruntung mendapatkan pemandangan salju yang indah. Menurut Frank, rombongan kami sangat beruntung. Kami bisa menikmati indahnya hutan pinus yang lebat berlapis salju dengan dominasi warna putih layaknya lukisan hidup karya Sang Maha Pencipta.

Batang pinus tak berdaun berhias salju pun menambah sempurnanya keindahan alam Xue Xiang di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok. Menurut Frank, untuk menghasilkan pemandangan yang indah, ada beberapa syarat, di antaranya suhu harus minimal minus 25 derajat Celsius.

Angin yang cukup bersahabat, membuat salju tidak terbang menghilang. Begitu juga dengan sinar matahari yang cerah, menambah keindahan warna yang dihasilkan.

“We were so lucky because we can see snow tree and beautiful snow scene,” ujar Frank, membuat kami tambah semangat.

Sekitar pukul 15.00, kami pun sampai di China Snow Town, sebuah hotel yang mewah. Fasilitas ini disiapkan Administrasi Pariwisata Nasional Tiongkok.

Tepat pukul 15.30, kami diajak berkeliling Kampung Salju. Suhu menunjukkan minus 38 derajat Celsius.

Tentunya bukan perkara mudah menghadapi udara dingin yang ekstrem. Untuk mengambil foto saja dalam hitungan detik, tangan sudah membeku. Ini tantangan berat untuk rekan juru kamera iNews.id. Spot-spot gambar sangat indah, tapi untuk mengambilnya butuh usaha keras melawan dingin yang menusuk.

Kami berjalan menuju tempat wisata salju yang memang khusus untuk pengunjung menikmati rumah-rumah seperti jamur raksasa tertutup salju yang sangat tebal. Konon, penduduk asli Kampung Salju adalah petani.

Rumah-rumah salju seperti dalam dongeng Snow White atau cerita Putri Salju, tempat para kurcaci bermukim. Sangat sempurna indahnya. Salju tebal hampir setengah meter menyelimuti atap-atap rumah. Ratusan jamur putih raksasa pun menyebar di antara rumah-rumah salju.

Pemandangan yang luar biasa itu, menjadi momen istimewa bagi wisatawan yang berkunjung untuk mengabadikan gambarnya. Alhasil, pesona Kampung Salju pun akhirnya banyak dikenal orang dan kini menjadi tempat wisata favorit. Tidak hanya bagi warga Tiongkok dari berbagai provinsi, tetapi juga wisatawan dari negara-negara tetangga Asia lainnya.

Suggest to a friend
  Print